Selasa, 21 Agustus 2012

KEUTAMAAN UCAP SALAM

Keutamaan Mengucapkan Salam

Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah yang bukan rumah kalian sebelum kalian meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (QS. An-Nur: 27)
Allah Ta’ala berfirman:
تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً
“Salam yang ditetapkan dari sisi Allah yang berberkah.” (QS. An-Nur: 61)
Dari Abdullah bin Amr -radhiallahu anhu- dia berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Islam apakah yang paling baik?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
“Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”. (HR. Al-Bukhari no. 11, 27 dan Muslim no. 39)
Dari Al-Barra` bin Azib -radhiallahu ‘anhu- dia berkata:
أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ أَمَرَنَا بِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ وَإِجَابَةِ الدَّاعِي وَإِفْشَاءِ السَّلَامِ وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ وَإِبْرَارِ الْمُقْسِمِ وَنَهَانَا عَنْ خَوَاتِيمِ الذَّهَبِ وَعَنْ الشُّرْبِ فِي الْفِضَّةِ أَوْ قَالَ آنِيَةِ الْفِضَّةِ وَعَنْ الْمَيَاثِرِ وَالْقَسِّيِّ وَعَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ وَالْإِسْتَبْرَقِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara: (1)Beliau memerintahkan untuk menjenguk orang sakit, (2)mengiringi jenazah, (3)mendoakan orang yang bersin, (4)memenuhi undangan, (5) menyebarkan salam, (6)menolong orang yang terzhalimi, serta (7)melaksanakan sumpah. Dan beliau melarang kami (1)memakai cincin dari emas, (2)minum dari bejana yang terbuat dari perak, (3)mayasir, (4)qassiy, (5)harir, (6)dibaj, dan (7)istabraq (semua jenis pakaian yang terbuat dari sutera atau campuran sutera).” (HR. Al-Bukhari no. 2265,5204,5414,5754,5766 dan Muslim no. 2066)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukan kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang mana apabila kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling menyayangi. Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)
Penjelasan ringkas:
Ucapan salam termasuk dari salah satu syiar Islam yang paling nampak, Allah menjadikannya sebagai ucapan selamat di antara kaum muslimin  dan Dia menjadikannya sebagai salah satu dari hak-hak seorang muslim dari saudaranya. Rasul-Nya -alaihishshalatu wassalam- juga telah memerintahkan untuk menyebarkan syiar ini dan beliau mengabarkan bahwa menyebarkan salam termasuk dari sebab-sebab tersebarnya rasa cinta dan kasih sayang di tengah-tengah kaum muslimin, yang mana tersebarya cinta dan kasih sayang di antara mereka merupakan salah satu sebab untuk masuk ke dalam surga.
Ucapan salam termasuk ucapan yang berberkah, dan di antara keberkahannya adalah jika dia didengar maka hati orang yang mendengarnya akan dengan ikhlas segera menjawab dan mendatangi orang yang mengucapkannya. (Al-Fath: 11/18) Karenanya tidak sepantasnya seorang muslim membatasi ucapan salam hanya untuk sebagian orang (yakni yang dia kenal) dan tidak kepada yang lainnya (yang dia tidak kenal). Bahkan di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah dia mengucapkan salam kepada orang yang tidak dia kenal sebagaimana kepada orang yang dia kenal.
Para ulama menyatakan bahwa hukum memulai mengucapkan salam kepada orang lain adalah sunnah sementara menjawabnya adalah fardhu kifayah. Maksudnya jika dia berada dalam sekelompok orang lantas ada seseorang atau lebih yang mengucapkan salam kepada mereka lalu sebagian di antara kelompok orang itu ada yang menjawab maka sudah gugur kewajiban dari yang lainnya. Adapun jika dia sendirian maka tentunya diwajibkan atas dirinya untuk menjawabnya.
Karenanya, di antara musibah di zaman ini adalah digantinya ucapan salam ini dengan ucapan yang diimpor dari negeri kafir semacam ‘selamat pagi’ dan semacamnya, padahal ucapan salam ini adalah sebuah ucapan tahiyah (penghormatan) dari sisi Allah yang berberkah lagi baik. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Al-Fath (11/14), “Para ulama sepakat bahwa barangsiapa yang mengucapkan salam maka tidak syah menjawabnya kecuali juga dengan ucapan salam, dan tidak syah (yakni tidak menggugurkan kewajibannya, pent.) menjawabnya dengan ‘selamat pagi’ atau ‘kebahagiaan untukmu di waktu pagi’ dan semacamnya.”

SEORANG TEMAN


“Teman” sebuah kata yang penuh dengan makna
seorang teman bukanlah yang selalu mengajak untuk “tertawa”
bukan yang selalu bergembira dengan irama suka
bukan yang selalu bercanda
bukan yang berkata “santai saja”
bukan yang mengajak berleha – leha
bukan yang selalu mengajak “membicarakan” orang lain
bukan yang selalu membuat hati kita “berbunga – bunga”
bukan yang memenuhi segala “keinginan kita”
bukan yang mengajak mengejar dunia
bukan yang mengajak kita bersuka ria
bukan yang mengajak untuk tidak “menangis”
bukan yang hanya berharap masa muda hura – hura
tua kaya raya kalau mati masuk surga
bukan yang berfikir “mumpung masih muda tidak apa – apa, nanti kalau sudah tua tidak bisa”
bukan yang berfikir saat muda “boleh melakukan apa saja”
Namun seorang teman adalah
yang bisa mengajak kita untuk “menangis kala bahagia”
yang mengajak kita tabah saat bencana
yang memahamkan kita akan maksud hidup kita di dunia
yang membiasakan kita untuk melihat kedalam diri
yang mengajak kita untuk berfikir akan akhir hidup dunia
yang mengajarkan kita tahu bagaimana cara menghargai dan memuliakan diri
yang dengannya kita semakin dekat dengan Nya
yang saat bersamanya semakin dekat kita dengan keta’atan pada Nya
yang “membuatkan” pakaian untuk kita dari bahan taqwa
yang mengajari kita untuk selalu bersyukur atas segala karunia Nya
(sehat, mata, telinga, hidung, kaki, kulit, rambut, usia dan banyak yang lainnya)
yang mengajari kita untuk hanya takut pada Nya
yang menjadikan kita tahu dan mengerti akan “kerendahan diri”
yang mengajarkan kita ‘tuk rendah hati
yang menjadikan kita terikat oleh ikatan cinta kepada Nya
yang selalu saling mencinta karena Nya
yang memberi pilihan terbaik bagi kita tentang kekasih sejati kita
yang mengajarkan untuk tidak menduakan cinta kapada Nya
maka tiada ikatan yang lebih kuat lagi saat bersama
ketika bersama karena ikatan cinta kepada Nya

TAUBAT


Ku tatap batas yang tergores membatasi lelangit dan lautan

Telingaku mencermati camar yang memekik dan mencecah kakinya

pada laut yang tak pernah luka

Dentuman debur menghantam karang

Dan sisanya membuih membasahi ujung jemariku yang terendam pasir

Ada titik permata jatuh pada pipiku

Lalu mentari memberinya warna warni pada bulatnya yang penuh

Sebelum jatuh dan terisap pasir-pasir pantai

Jeritan hatiku yang terasa memberat pada mulutku

Terlebih pada dadaku yang terdalam

Kusadari bahwa jalan menuju surga dan ridhoMu memang berat

Ya Allah… Betapa sulit menggapaiMu…

Cukupkah waktuku tuk menuju keribaanMu…

KARENA CINTA



Mengapa dunia ini dicipta???
Mengapa matahari selalu bersinar
meski makhluk tak pernah meminta???
Mengapa ada siang dan malam???
Mengapa udara tetap berhembus meski tak pernah diminta???

Mengapa hujan turun menyuburkan bumi???
Mengapa tumbuh – tumbuhan menghasilkan buah
yang kemudian bisa dimakan oleh manusia???
Mengapa dengan makan manusia bisa bertahan hidup???
Mengapa manusia satu dengan yang lain saling mengenal
meski mereka tahu ada perbedaan pada mereka
bahkan perbedaan yang sangat mendasar ???
Mengapa ada sehat dan sakit???
Mengapa ada suka dan duka???
Mengapa binatang yang paling buas
tetap membagi makanan untuk anaknya???

Sekeliling duniapun jawaban itu dicari
Ke ujung langit manapun jawaban itu dicari
Seberapa banyak kita bertanya pada siapapun
Semakin kita cari jawabannya
Semakin kita tak akan pernah tuk menemukannya
Kecuali “Semua itu ada karena Cinta